Terukirkan batu…pualam…
Berceritakan…burung terbang…
Seperti….aku melayang dalam
sangkar
Sebatas rendah saja aku bertengger
Dahan kayu yang terpotong tanpa
cabang
Di sana aku bersimpuh lelah
Tak bisa keluar dari jerembabnya
fana
Terkekang tanpa daya…
Amarah pun seraya sirna tanpa
seberkas kata
Begitu lenyaplah sudah yang
bersemayam di hati…
Tanpa cinta lagi
Aku bernafas…
Tanpa hingar bingar dunia lagi
Aku…menatap lemas
Tanpa berkelana jauh
Aku mencari…
Tak tersisa sekedar puing saja
Haus akan isyarat cinta yang
gersang…
Berapa kilo harus didaki tanpa tali…
Melewati tebing curam ditelan oleh
panasnya mentari…
Seberapa aku harus percaya pada…
bisik cinta…
Yang aku tahu hanya sekedar dusta…
Tak bisa ku lihat…bagian belakang
dari kepalaku…
Tak bisa ku julurkan satu tangan
untuk melingkar di perutku…
Kedua mataku tak bisa melirik yang
ada di lain tempat…
Kecuali sebatas pandanganku…
Hanya yakinku padamu…
Hanya kepekaan dalam batinku…
Hanya rindang dan subur cinta…
bersemayam
Tapi aku tak memilikinya lagi…
Lenyap sudah yang ku genggam
Menembus sangkar…
Sangkar ini…membentengiku…
Tak kan bisa kuraih lagi