Selasa, 30 Juni 2015

SEBAB CINTA


Sebab cinta itu, tak ubahnya seperti maling Datang mengendap-endap, lalu pergi; berpaling Yang belum sempat kukecup kening Sebab cinta itu, hanya ada rindu dan cemburu Keduanya saling menyatu, terurai dalam kalbu Yang menghadirkan luka pada hari yang lalu Sebab cinta itu, hanyalah seonggok rasa Pandai mengubah hidup kita Memahami dan dipahami Mencintai dan dicintai Melukai dan mungkin, Harus pandai mengucap “Maaf“

WAJAH TELAGA


Wajah telaga tidak pernah berdusta Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar Menghadap awan yang menuggu sabar dini hari datang untuk keduanya bersentuhan Wajah telaga tidak pernah menyangkal Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati Menanti awan yang berubah tak pasti hingga pagi datang dan keduanya berpulang pada kejujuran Izinkan wajahku menjadi wajah telaga Merona saat disulut cinta Menangis saat batin kehilangan kata Memerah saat dihinggapi amarah Mengguras saat digores waktu Izinkan wajahku bersuara apa adanya Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecupi halus wajahku Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh sentuhanmu Bersua tanpa samaran apa- apa Saat semua cuma cinta Cinta semua saat Dan bukan lagi saat demi saat