Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini
adalah hamba Tuhan; jadilah padaku
menurut perkataanmu itu.” Lalu
malaikat itu meninggalkan dia. (Luk
1:38)
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan
Tuhan” (Luk 1:46)
Dari dua ayat ini ada hal atau catatan
yang perlu kita ketahui:
1. Maria berkata: “..aku ini adalah
hamba Tuhan”.
Konsep kita, hamba Tuhan adalah
penginjil. Apakah Maria adalah
seorang hamba Tuhan tamatan
sekolah teologia? Tidak. Maria adalah
seorang wanita Yahudi. Wanita bagi
bangsa Yahudi memiliki kelas yang
rendah. Wanita hanya sebagai
pelengkap pria. Dia harus menjadi
pekerja keras, tidak boleh tampil di
depan umum.
Saya pernah bertemu dengan seorang
Katholik di sebuah pesawat yang
menanyakan pendapat saya mengenai
Bunda Maria. Saya mengatakan bahwa
Maria adalah seorang yang dipilih,
diberkati, seorang yang berbahagia,
tetapi jangan melebih-lebihkan.
Karena Maria mengaku bahwa dirinya
hanyalah seorang hamba. Kita tidak
menyembah hamba Tuhan tetapi
menyembah Tuhan.
2. Maria berkata: “Jiwaku memuliakan
Tuhan”.
Pada waktu Elisabet berseru dengan
suara nyaring: “Diberkatilah engkau di
antara semua perempuan dan
diberkatilah buah rahimmu.” (Luk
1:42). “Dan berbahagialah ia, yang
telah percaya, sebab apa yang
dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan
terlaksana.” (Luk 1:46).
Pada waktu dipuji, Maria
mengembalikan kemuliaan kepada
Tuhan.
Kalau diberkati, kita harus
memuliakan Tuhan. Tapi kita kadang
tidak berkata seperti Maria. Orang
Kristen banyak mengalami kasih
karunia Tuhan tapi lupa
mengembalikan kemuliaan kepada
Tuhan. Orang Kristen kadang lupa
beribadah walaupun hanya satu kali
seminggu.
“Dari satu orang saja Ia telah
menjadikan semua bangsa dan umat
manusia untuk mendiami seluruh
muka bumi dan Ia telah menentukan
musim-musim bagi mereka dan
batas-batas kediaman mereka,
supaya mereka mencari Dia dan
mudah-mudahan menjamah dan
menemukan Dia, walaupun Ia tidak
jauh dari kita masing-masing. Sebab
di dalam Dia kita hidup, kita bergerak,
kita ada, seperti yang telah juga
dikatakan oleh pujangga-pujanggamu:
Sebab kita ini dari keturunan Allah
juga.” (Kis 17:26-28)
Mengapa kita perlu memuliakan
Tuhan?
1. Karena kita adalah ciptaan Tuhan.
2. Karena manusia sudah jatuh
dalam dosa tetapi Allah masih
memperhatikan manusia bahkan
menyelamatkan melalui karya
Kristus. Dalam Mzm 8:5 Daud
berkata: “apakah manusia,
sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga
Engkau mengindahkannya?
3. Karena dalam perjalanan hidup
kita, kalau bukan karena kasih
Tuhan, kita akan celaka karena
harus hidup dengan konsekuensi
sebagai orang berdosa.
Bagaimana memuliakan Tuhan?
1. Melalui Tubuh.
I Kor 6:20 berkata “Sebab kamu telah
dibeli dan harganya telah lunas
dibayar: Karena itu muliakanlah Allah
dengan tubuhmu! Melalui tubuh,
pikiran, tangan, kaki, dan anggota
tubuh lainnya, kita memuliakan Tuhan.
2. Melalui Talenta / Kepintaran.
Orang dunia menyebut talenta sebagai
bakat. Bakat kita warisi dari orang tua.
Orang Kristen menyebutnya karunia
atau talenta. Talenta bisa berasal dari
bakat yang dipakai untuk Tuhan. Misal
karunia untuk menyanyi atau
memainkan musik. Karunia adalah
kepintaran yang dipakai untuk
memuliakan Tuhan. Ada penyanyi
yang memiliki bakat, setelah bertobat
bakat bernyanyinya dipakai untuk
memuliakan Tuhan. Paulus sebelum
bertobat adalah seorang yang pandai
bicara. Setelah bertobat,
kepandaiannya dipakai untuk
memuliakan Tuhan. Semua orang
memiliki talenta.
3. Melalui Waktu
Kita melayani di dalam waktu. Jangan
kita berkata kita tidak punya waktu.
Hanya orang mati yang tidak punya
waktu. Orang hidup pasti punya waktu
tapi perlu di-manage
4. Dengan Hartamu.
Alkitab berkata: “Muliakanlah TUHAN
dengan hartamu dan dengan hasil
pertama dari segala
penghasilanmu” (Ams 3:9) . Kalau kita
ingin memuliakan Tuhan dengan harta,
harus dengan segenap hati, dengan
seluruh kedamaian dan kebahagiaan.
Mempersembahkan tidak usah melihat
yang lain. Mempersembahkan harus
berkorban, tidak mengharapkan
imbalan. Mempersembahkan harus
dengan kerelaan, jangan mengatur apa
yang telah dipersembahkan.
Mempersembahkan harus dengan
sukacita, dengan kesadaran mengapa
saya memberikan persembahan.
Marilah kita belajar seperti Maria
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus